MEREFORMASI POLITIK ISLAM

Share |
03 Februari 2011, 17:45 | dibaca 236601 kali

Dalam suatu pertemuan diluar negeri, saya pernah “marah besar” sekaligus gelagapan menjawab soal beberapa tuduhan kepada umat Islam.  Soal korupsi misalnya. Kebenaran kebanyakan pelakunya secara kuantitas adalah orang-orang Islam. Soal politisi yang kurang berkenan dimata rakyat, juga didominasi oleh orang-orang Islam. Ribut-ribut kepengurusan partai, kebetulan juga dipertontonkan oleh partai-partai Islam.  Inikah konsekuensi karena secara kuantitas memang orang Islam mayoritas di Indonesia? Mayoritas orang Islam berada di berbagai partai politk? Tapi yang terkadang membuat perhitungan kita salah, justru ketika pemilihan umum. Jumlah mayoritas ini ternyata tidak mayoritas pula memilih partai politik yang berbasis Islam. Ada apa ini. Apakah sebagai akibat terkotak-kotaknya partai Islam. Tulisan ini sebagian dari tulisan yang pernah saya diskusikan di Pascasarjana IAIN Raden Fatah Palembang. Ia sebagai perhatian kepada partai Islam sekaligus harapan bahwa paling mungkin Indonesia dapat dibenahi oleh partai-partai Islam sekaligus sulit bangkit ketika partai Islam tidak islami [...]
KETIKA mengikuti pertemuan ilmiah di Lund University, Swedia 2003 saya berharap banyak dengan dua peserta perempuan dari Afganistan dan Iran. Harapan ini wajar karena “anggapan saya” para sister ini datang dari dua negara yang dipercaya memiliki tradisi dan nilai ke-Islaman yang kuat. “Mereka,” fikir saya, akan mengusung nilai-nilai Islam untuk berhadapan dengan peserta dari 21 negara lainnya yang rata-rata penasaran dengan Islam. “Mereka,” harap saya pula, akan memberikan pembelaan ketika Islam mendapat serangan dari peserta negara lain lewat isu-isu panas seperti terorisme, kesetaraan gender, FGM (sunat perempuan). Harapan ini wajar, selain bahasa Inggris mereka yang baik juga memiliki pemahaman tentang Islam lebih baik dari saya.
Dugaan itu ternyata malah meleset. Peserta dari Iran itu justru menggunakan forum “21 negara itu” untuk mengeluarkan “sumpah serapahnya” terhadap kepemimpinan Islam di Iran. Ia tampilkan hampir semuanya jelek kepemimpinan di Iran itu. Ia, peserta dari negara Iran ini, justru tampil menggebu-gebu menceritakan betapa Islam memberikan batasan-batasan yang tidak dapat diterima terhadap perempuan. Akibatnya, wanita-wanita Iran sulit berkembang. Demikian menurut aktivis perempuan Iran ini. “Sister dari Afganistan” itu ternyata tidak jauh berbeda. Justru ia mempertontonkan dirinya sebagai satu-satunya peserta yang selalu terlambat dalam hampir setiap pertemuan, sering pula tampil kurang menyenangkan. Tinggallah saya yang berasal dari negara berpenduduk Islam terbesar didunia, namun dituduh oleh teman-teman dari Iran dan Afganistan itu sebagai negara yang moderat, tidak menjalankan ajaran-ajaran Islam secara sesungguhnya. Terserah mereka. Tetapi akhirnya saya sendirian berusaha “membela Islam” dihadapan peserta lain. Wajar kalau untuk ukuran saya perjuangannya “mati-matian” karena berasal dari negara yang dianggap moderat Islamnya. Tapi yang pasti saya ingin menjelaskan Islam tidak seperti yang diuraikan oleh teman dari Iran itu. Boleh jadi yang diceritakan itu adalah pemerintah Iran tapi bukan pemerintahan Islam.
Cerita singkat ini hanya sebagai “pemanasan” betapa pentingnya image seseorang atau sekelompok orang terhadap suatu hal. Demikian juga pentingnya pandangan terhadap Islam. Di dunia internasional, Islam saat ini pada posisi sulit. Tengok saja di negara-negara yang kita anggap tradisi Islamnya kuat justru porak poranda. Irak yang terkenal dengan negara Islam 1001 malam, kini porak-poranda.  Negeri ini seakan berubah tiada hari tanpa bom dan kematian. Begitu juga dengan Afganistan yang luluh lantah hanya karena Amerika melancarkan perang in the name of terrorism. Orang Islam juga mempunyai ruang gerak yang sempit di negara-negara Barat seperti di Australia, Amerika Serikat dan Eropah. Setiap orang yang mempunyai nama khas Islam seringkali mendapat kesulitan dalam menghadapi aparat imigrasi di banyak negara. Bahkan ada kenalan saya yang berusaha mengubah nama Islamnya hanya karena kesulitan memperpanjang visa tinggalnya di Amerika. Image dunia internasional sedemikian menyudutkannya terhadap Islam. Lebih rumit lagi jadinya ketika mereka yang berfikiran praktis secara serta-merta mengkaitkan antara terorisme dengan Islam.
Banyak orang kemudian bertanya-tanya: “Benarkah Islam itu sama dengan terorisme?”, “Benarkah Islam memilih jalan kekerasan untuk mencapai tujuannya?”, “Apakah yang dimaksud dengan Jihad?” Pertanyaan-pertanyaan ini boleh jadi mempunyai dua dampak. Pertama, justru membuat orang-orang yang tak mengenal Islam penasaran untuk mencari jawabannya. Akibatnya, mungkin saja justru Islam kemudian dipelajari oleh lebih banyak orang yang selama ini tidak mempunyai pemahaman terhadap Islam. Jangan heran kalau hikmahnya justru beberapa orang yang tak faham Islam, kemudian malah berubah menjadi pemeluk Islam yang taat. Kedua, pertanyaan-pertanyaan ini justru semakin memberikan ruang gerak semakin sempit kepada orang Islam. Ini terbukti dengan pembatasan-pembatasan yang dilakukan oleh negara-negara seperti Amerika, Inggris dan Australia terhadap komunitas Islam.
Kita, sebagai orang Islam, kemudian faham dan meyakinkan benar bahwa Islam tidak identik dengan terorisme. Islam tidak menggunakan kekerasan dalam mencapai tujuannya. Islam memberikan makna yang luas terhadap arti Jihad. Namun persoalannya bagaimana mentransfer “pengetahuan dan keyakinan kita ini” kepada mereka yang tak sefaham dengan kita? Bagaimana kita meyakinkan orang asing bahwa pernyataan-pernyataan dalam VCD pengebom Bali II itu sesat dan bertentangan dengan Islam? Mungkin mereka menganggukkan kepala, pura-pura faham, ketika kita bercerita namun kemudian mereka sulit mengerti kalau kita membantah para pelakunya adalah orang-orang Islam.
POLITIK ISLAM DI INDONESIA
Satu hal yang paling dibanggakan oleh kita, umat Islam di Indonesia, bahwa Indonesia mempunyai jumlah penduduk beragama Islam terbesar di dunia. Hitung saja apablia ada 85% dari 220 juta penduduk Indonesia. Hanya sebatas menang dari sisi kuantitas dari “mereka yang mengaku beragama Islam.” Namun apakah mereka memegang kendali negerinya? Kendali itu paling mungkin lewat partai-partai politik yang kemudian masuk kedalam kekuasaan negara.
Politik adalah kekuasaan. Mereka yang ingin berkuasa harus berpolitik. Tindakan pertama untuk berpolitik adalah dengan memasuki partai politik yang merupakan kendaraan untuk mencapai kekuasaan. Mestinya, kalau benar 85% penduduk merupakan para pemeluk Islam, maka cerminan partai politiknya juga mendekati 85% menjalankan nilai-nilai Islam. Menjadikan Islam sebagai dasar kebijakan partai politiknya. Islam pula menjadi cerminan sepak terjang partai itu.
Bagaimana tampilan politik Islam di Indonesia digambarkan oleh aktivitas partai-partai Islam. Arskal Salim mengartikan partai Islam sebagai: “Partai yang memakai label Islam (nama, asas, dan tanda gambar);atau partai yang tidak memakai label Islam tetapi hakekat perjuangannya adalah terutama untuk kepentingan umat Islam tanpa harus mengabaikan kepentingan umat agama lainnya, atau partai yang tidak memakai label agama Islam dan tujuan/programnya untuk kepentingan semua warga negara RI, tetapi konstituen utamanya berasal dari umat Islam”
Dalam bukunya, Muhammad Sirozi,PhD berusaha mengungkapkan bagaimana “sepak terjang” partai politik Islam di Indonesia. Sirozi berusaha mengungkapkan bagaimana awal kekalahan kelompok Islam dipentas politik adalah dirombaknya piagam Jakarta yang menghapuskan kalimat “ dengan kewajiban menjalankan syraiat Islam bagi pemeluknya” yang kemudian dikombinasikan oleh sikap Orde Baru yang berkuasa yang bersifat sekuler. Mungkin akan lebih informatif lagi kalau saja buku tersebut menjelaskan apa yang menyebabkan kegagalan partai-partai Islam melawan kaum sekuler ketika itu dan dimasa mendatang. Bahkan, memberikan pula strategi apa yang dapat dilakukan partai-partai Islam dalam menghadapi sekularisme tersebut.
MEREFORMASI POLITIK ISLAM
Muhammad Sirozi menguraikan secara gamblang bahwa Islam itu mementingkan perencanaan kerja, mengedepankan kepemimpinan kolegial, tidak otoriter, dan professional. Pertanyaannya, apakah politik Islam telah menerapkan prinsip-prinsip ini? Jika saja prinsip-prinsip ini yang dijalankan, pastilah berubah wajah Indonesia. Kalau saja ideologi ini yang dipakai, pastilah berbagai persoalan bangsa ini dapat dipecahkan. Kita kemudian keluar dari berbagai kesulitan bangsa yang terkadang orang curiga, jangan-jangan semua ini azhab tuhan kepada kita yang tidak random sifatnya.
Kalau saja partai-partai Islam mengedepankan kepemimpinan kolegial maka patut diduga partai-partai Islam “tidak akan sebanyak sekarang ini.” Bagi sebagian orang beranggapan justru partai-partai Islam menampilkan “one man show” Rumitnya, sebagian besar kita sangat berambisi untuk menjadi yang one man itu. Akibatnya, seringkali terjadi konflik internal dikalangan partai-parati Islam di Indonesia. Celakanya konflik internal kemudian melahirkan partai-partai Islam baru. Para pemilih kemudian terkotak-kotak pula, harus memberikan suara kepartai Islam yang mana. Masyarakat dipertontonkan bagaimana laku dari sebagian partai politik yang berbasis Islam. Sebagian kita menyaksikan dalam biasanya tontonan itu dilakukan pada saat terjadi suatu pertemuan memilih ketua baru.  Terkadang, ketidaksepakatan kelompok internal menghasilkan suatu pertemuan baru, menghasilkan kepengurusan baru dan menghasilkan perseteruan baru.
Profesionalisme juga menjadi persoalan. Tidak semua partai-partai Islam mampu menampilkan profesionalisme mereka. Tindakan main pecat terhadap anggotanya yang dianggap tidak sejalan merupakan salah satu bukti bahwa profesionalisme itu masih menjadi persoalan. Oleh karena itu sebetulnya yang juga penting dilakukan adalah terlebih dahulu “Mereformasi” politik Islam di Indonesia. Bagaimana agar “image” para pemilih adalah bahwa partai-partai Islam adalah partai yang mementingkan perencanaan kerja, mengedepankan kepemimpinan kolegial, tidak otoriter, dan professional.
Selama partai-partai Islam (politik Islam) mempunyai potret sebaliknya, maka selama itu pula para pemilih akan berpaling kepada partai lain yang tidak bercorak Islam. Hal ini sudah terbukti dengan kekalahan partai-partai Islam hampir disetiap pemilihan umum. Cara paling mudah yang dapat dilakukan adalah dengan mengubah tampilan politik (political appearance) para wakil rakyat dari partai Islam yang dengan sendirinya disertai adanya pembaharuan terhadap partai-partai Islam. Partai-partai Islam harus menjadi partai kader yang mampu melahirkan kadernya baik di legislatif dan eksekutif, yang mampu ”tampil beda.” Ini sudah tergambar oleh sebagian kawan-kawan di PKS, misalnya. Partai politik tidak dijadikan tempat untuk semata-mata memperbaiki kehidupan ekonomi. Partai benar-benar dijadikan alat perjuangan untuk mensejahterahkan rakyat Indonesia. Partai-partai berbasis Islam harus mampu menjadi pioneer kebaikan yang selama ini boleh jadi belum dilakukan oleh partai-partai lain. Anggota-anggota legislatif dari partai Islam harus berani ”tampil beda” demi memperjuangkan kepentingan rakyat yang diwakilinya. Kader-kader partai Islam harus ”satu kata dan perbuatan.” Singkat kata, partai-partai Islam haruslah islami. Inilah makna dan pemahaman sederhana yang saya maksudkan dengan “Mereformasi Politik Islam.”

Tagged:  Reformasi Politik Islam

Leave Your Comment:

grinLOLcheesesmilewinksmirkrolleyesconfused
surprisedbig surprisetongue laughtongue rolleyetongue winkraspberryblank starelong face
ohhgrrrgulpoh ohdownerred facesickshut eye
hmmmmadangryzipperkissshockcool smilecool smirk
cool grincool hmmcool madcool cheesevampiresnakeexcaimquestion


 

 

Comments:

 
  • BrozovBop wrote:
    18 Juni 2017, 21:01

    cheap generic cialis india <a href=http://cialisonline300.com/>cialis price</a> <a href="http://cialisonline300.com/">cialis online</a> cialis y hipertension

  • NataBop wrote:
    18 Juni 2017, 11:16

    cialis originale online <a href=http://cialiscanadaonl.com/>tadalafil</a> <a href="http://cialiscanadaonl.com/">cialis canada</a> recommended site cost cialis

  • AdaBop wrote:
    17 Juni 2017, 22:15

    viagra best dosage <a href=http://viagrasonline.com/>buy generic viagra</a> <a href="http://viagrasonline.com/">viagra</a> price of viagra in delhi

  • VarnoBop wrote:
    17 Juni 2017, 22:02

    payday loans rowland heights <a href=http://paydaysoloonline.com/> payday express</a> <a href="http://paydaysoloonline.com/"> loans for bad credit</a> instant approval personal loans no credit check

  • AdaBop wrote:
    17 Juni 2017, 10:35

    generic viagra do they work <a href=http://viagrasonline.com/>cheap viagra online</a> <a href="http://viagrasonline.com/">cheap viagra online</a> viagra aus dem sexshop

  • VarnoBop wrote:
    17 Juni 2017, 07:55

    personal loans in laurel ms <a href=http://paydaysoloonline.com/> payday express</a> <a href="http://paydaysoloonline.com/"> payday express</a> fast cash on csr racing

  • 17 Juni 2017, 04:01

    http://shariedarensbourg.blogas.lt/?p=15&akst_action=share-this

  • RosaBop wrote:
    17 Juni 2017, 00:52

    viagra on malaysia <a href=http://buygviagraonline.com/>viagra online</a> <a href="http://buygviagraonline.com/">buy viagra</a> viagra onde comprar online

  • AdaBop wrote:
    16 Juni 2017, 22:42

    cosa costa viagra farmacia <a href=http://viagrasonline.com/>generic viagra</a> <a href="http://viagrasonline.com/">buy viagra online</a> compro viagra onlin

  • RosaBop wrote:
    16 Juni 2017, 21:20

    viagra fur mann <a href=http://buygviagraonline.com/>cheap viagra online</a> <a href="http://buygviagraonline.com/">online viagra</a> viagra rx escompte



kata kata galau kata kata motivasi desain rumah minimalis jual baju korea kacamata online cara cepat hamil cara memakai jilbab