Gerakan Separatis

Share |
05 Maret 2010, 14:50 | dibaca 208605 kali

Prof. Amzulian Rifai,Ph.D

Dosen Fakultas Hukum UNSRI

Isu separatis muncul kembali sejak 28 aktivis RMS (Republik Maluku Selatan) secara illegal mempertontonkan tarian cakalele sekaligus memamerkan bendera RMS didepan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Ambon,Maluku. Bukan main. Ini bukti rawannya sistem pengamanan kita, bahkan terhadap seorang kepala negara sekalipun. Kejadian mirip juga dilakukan oleh para aktivis OPM (Organisasi Papua Merdeka) dalam suatu pertemuan Dewan Adat Papua. Apakah kejadian-kejadian ini sebagai awal kembalinya isu separatisme di Indonesia sebagaimana pernah dilakukan oleh aktivis Fretellin di Timor Timur dan GAM di Aceh?

HAMPIR tidak ada negara didunia yang memberikan toleransi terhadap gerakan separatis. Australia sebagai negara yang seringkali mengusik dan “memberi angin” terhadap gerakan separatis di Indonesia termasuk paling sensitif terhadap isu separatis didalam negerinya sendiri. Doktrin Terra Nullius yang pernah mereka terapkan terhadap bangsa Aborigin merupakan bukti nyata betapa Australia sangat tidak mengakui adanya bangsa lain yang memiliki benua itu. Jika kita tengok sejarah, maka berbagai cara dilakukan Australia untuk menumpas gerakan penentuan nasib sendiri (self determination) bangsa Aborigin.

Selandia Baru juga memiliki masalah dengan penduduk asli mereka, bangsa Maori. Penduduk asli negeri ini ingin pula menerapkan prinsip Self determination sebagaimana didengungkan oleh indigenous people dibanyak negara. Namun Selandia Baru mampu menyelesaikan isu separatisme ini dengan baik terutama setelah kesepakatan diterapkannya Waitangi Treaty. Begitu juga gerakan-gerakan separatis di negara-negara lain dapat dilalui dengan damai. Misalnya di Quebec, Kanada bahkan Singapura sendiri lepas dari Federasi Malaysia. Walaupun ada juga isu seperatis dilalui dengan gerakan berdarah seperti kelompok Basque ETA di Perancis dan Spanyol, IRA di Irlandia. Bahkan gerakan separatis dapat menyebabkan perang saudara seperti yang terjadi di Chechnya atau di Thailand Selatan.

Namun jika kita perhatikan, nampak Indonesia terbukti kewalahan menghadapi isu separatis ini. Timor Timur telah membuktikan kepada dunia bahwa Indonesia memang “rapuh” dalam menghadapi isu separatis tersebut. Aceh melalui gerakan Aceh Merdeka (GAM), telah pula berhasil memaksa Indonesia untuk menjadikan bangsa Aceh sejajar dengan bangsa Indonesia yang akhirnya melahirkan kesepakatan Helsinski yang terkenal sekaligus kontroversial itu. Mengapa Indonesia lebih rapuh dalam menghadapi isu separatis dibandingkan dengan negara-negara lain?

Ada beberapa alasan yang membuat Indonesia relatif rapuh menghadapi gerakan separatis dibandingkan isu serupa di negara-negara lain. Pertama, karena etnis Indonesia yang rawan untuk menuntut kemerdekaan memang berjumlah lebih banyak ketimbang etnis di negara-negara lain. Kedua, adanya strategi internasionalisasi terhadap isu separatis. Ketiga, lemahnya pemerintah Indonesia baik didalam negeri maupun ditingkat internasional dalam menghadapi soal ini.

Dalam masalah separatis ini, Indonesia mengalami hal yang lebih serius dibandingkan negara-negara lain didunia, apalagi dengan Australia. Salah satu alasannya karena bangsa Indonesia lebih plural dari Sabang sampai Marauke. Australia hanya memiliki masalah dengan satu etnis saja, yaitu kaum Aborigin. Memang penduduk Australia berasal dari sekitar 120 negara. Tetapi mereka adalah pendatang yang tunduk dengan hukum imigrasi Australia yang ketat. Selandia Baru hanya “berhadapan” dengan bangsa Maori. Namun Indonesia harus berhadapan dengan “bangsa” Aceh, Papua, Maluku dan “bangsa-bangsa” internal Indonesia lainnya. Bangsa Timor Timur telah berhasil memerdekakan diri dari Indonesia.

Australia hanya berhadapan dengan bangsa Aborigin. Etnis ini kalah dalam berbagai hal dengan bangsa yang kini menjadi tuan mereka. Bangsa Aborigin sangat terbatas aksesnya kedunia internasional, terutama pada masa mereka memiliki “nafsu” untuk merdeka. Tinggallah bangsa Aborigin berjuang sendirian berhadapan dengan para pendatang dari Eropah yang kemudian menduduki benua Australia. Penekanan terhadap bangsa Aborigin, baik secara halus maupun secara kasar, dilakukan secara terus-menerus dan sistematis sehingga “nafsu” untuk memerdekakan diri itu menjadi hilang sama sekali. Kemerdekaan itu kini hanya dalam bentuk kemerdekaan budaya. Aborigin bebas mengibarkan benderanya, tetapi tidak lebih dari sekedar bendera budaya, hilang aspek politisnya. Walhasil, diera tahun 2000-an ini, Australia tidak lagi dipusingkan isu separatisme yang memang hanya datang dari bangsa Aborigin itu.

Beda sekali dengan bangsa kita. Indonesia tidak hanya harus berhadapan dengan berbagai etnis yang rentan dengan isu separatis tetapi kelompok ini juga memiliki akses yang luas dengan berbagai fasilitas jauh lebih baik dibandingkan dengan bangsa Aborigin pada saat memiliki keinginan merdeka. Bangsa Timor Timur memiliki akses “kemana-mana” di era informasi teknologi. Sialnya lagi, selama beberapa dekade justru Timor Timur dibangun oleh Indonesia dengan menempatkan dan memberikan kesempatan kepada bangsa ini sejajar dengan bangsa Indonesia lainnya. Tentu saja mereka menjadi pandai. Kepandaian dan kesempatan inilah yang digunakan untuk menggelindingkan isu separatisme yang bermuara pada kemerdekaan. Hal yang sangat rawan terhadap bangsa Aceh, bangsa Papua, bangsa Maluku Selatan serta etnis lainnya.

Hal kedua yang menyebabkan Indonesia rentan terhadap gerakan separatis adalah internasionalisasi masalah. Indonesia sangat lemah ketika permasalahan didalam negerinya dibawa ketingkat internasional. Ini telah dibuktikan oleh bangsa Timor Timur. Adalah Ramos Horta yang menggunakan strategi internasionalisasi isu Timor Timur. Banyak cara digunakan termasuk menuduh Indonesia melakukan pelanggaran HAM berat. Ramos Horta tahu bahwa pelanggaran HAM merupakan isu yang disukai oleh bangsa-bangsa Eropah, Australia dan Amerika. Para aktivis pro-kemerdekaan Timor Timur juga faham bahwa Indonesia berada pada posisi lemah ketika berhadapan dengan negara-negara lain. Bukankah Indonesia serba ketergantungan dengan begitu banyak negara? Apakah Indonesia punya tidak sungkan berkonfrontasi dengan negara-negara serupa Amerika, Inggris, Australia, Perancis, Portugal? Ramos Horta bahkan faham Indonesia tidak memiliki cukup nyali ketika berhadapan dengan Malaysia atau Singapura sekalipun.

Memahami lemahnya Indonesia berhadapan dengan komunitas internasional kemudian dijadikan strategi untuk menginternasionalisasi isu-isu separatisme. Strategi yang sama dengan Timor Timur kemudian juga digunakan oleh Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Indonesia kemudian “diseret” GAM untuk berunding di Helsinski. Bayangkan suatu gerakan sekaliber GAM mampu duduk sejajar dengan Indonesia sebagai negara. Walhasil Indonesia berada pada posisi sulit ketika proses itu kemudian mengikutsertakan negara-negara besar sekaligus menjadi tontonan dunia internasional. Sulit untuk tidak terus berunding. Sulit untuk berkeras terhadap GAM. Walhasil, sulit untuk tidak memenuhi tuntutan gerakan separatis dari bumi Aceh ini.

Masalah ketiga yang dihadapi negara kita, lemahnya pemerintah Indonesia baik didalam negeri maupun ditingkat internasional dalam menghadapi gerakan separatis. Didalam negeri Indonesia tidak tegas baik tahap antisipatif ataupun dari sisi persuasif. Apa yang pemerintah lakukan terhadap unsur-unsur OPM masih kurang jelas dan tegas. Demikian juga terhadap gerakan-gerakan yang dilakukan oleh RMS. Mestinya ada pembedaan antara gerakan lokal yang bersifat budaya dengan gerakan yang masuk kategori separatis.

Terhadap gerakan yang bersifat budaya, mestinya ada kompromi. Artinya, silahkan saja orang Papua memamerkan bendera OPM atau orang RMS memamerkan bendera atau mempertontontan tarian cakalele, jika itu semata-mata aksi budaya dan sekedar pengakuan eksistensi mereka. Di Australia, bendera Aborigin berkibar sejajar dengan bendera nasional Australia dikantor-kantor pemerintah sekalipun. Bahkan ketika pelari nasional Australia Kathy Freeman berhasil meraih medali emas dalam olimpiade Sydney, dia berlari mengitari lapangan dengan berbalut bendera Aborigin, bendera bangsanya. Tidak ada yang protes dengan kelakuan Kathy “Aborigin” Freeman ini. Padahal aksi itu ditonton oleh jutaan orang dan ratusan stasiun televisi diseluruh dunia. Tidak ada gejolak, apalagi aparat keamanan yang saling tuding kecolongan.

Mestinya Indonesia harus mampu menciptakan suasana dimana memamerkan bendera RMS atau OPM sebagaimana orang Aborigin memamerkan berbagai barang seni tradisional mereka. Salah satu faktor mengapa Australia tidak marah ketika orang Aborigin mengibarkan benderanya, karena hal itu tidak pernah dilarang dan tidak lebih dari soal pengakuan eksistensi budaya mereka saja. Patut diduga, semakin dilarang OPM atau RMS memamerkan bendera mereka maka semakin sulit kita mencegahnya. Walhasil gerakan kucing-kucingan soal simbol bendera ini akan terus berlanjut. Idealnya, “bendera-bendera budaya” RMS, OPM, GAM dapat dijadikan souvenir bagi mereka yang berkunjung ketempat-tempat wisata Indonesia. Jangan habiskan energi kita hanya karena “kalap mata” melihat bendera-bendera kaum separatis yang semakin ditekan semakin meningkat keinginan mereka mempertontonkannya disertai heroisme.

Telah terbukti pemerintah kita tidak hanya lamban tetapi juga represif dalam menghadapi gerakan separatis. Dua hal ini memposisikan kita pada posisi kalah. Separatisme tidak akan pernah mati apabila solusinya tidak tepat. Salah satu solusi yang harus dilakukan adalah pemerataan pembangunan diseluruh wilayah Indonesia. Isu separatis justru muncul di daerah-daerah yang kaya sumber daya alam tetapi tidak mendapatkan perhatian yang pantas. Otonomi daerah masih setengah hati dan orang daerah masih menjadi penonton bagi pemanfaatan sumber daya alam mereka. Orang-orang Sumatera Selatan cuma “mengeluh” ketika PUSRI, PT Bukit Asam, PT Semen Baturaja “dikuasai” oleh orang-orang luar daerah. Padahal SDM kita sungguh memadai untuk menduduki posisi penting di perusahaan-perusahaan tersebut. Nyatanya, orang-orang lokal serupa Faisal Perdana, Bhakti Setiawan justru diistirahatkan. Tetap saja manajemen pusat tidak peka untuk memanfaatkan SDM daerah menempati berbagai posisi yang sesungguhnya SDM kita sejajar bahkan terkadang lebih handal dari orang-orang luar Sumatera Selatan.

Gerakan separatis akan terus berkembang selama pemerintah pusat dinilai belum melakukan pembangunan secara merata dan pemanfaatan tenaga lokal secara patut, disertai implementasi otonomi yang setengah hati. Ketidakadilan dan pembangunan yang belum merata mengakibatkan kemiskinan dan pengangguran bagi masyarakat daerah yang kebanyakan kaya SDA. Mengapa Papua tidak memilih merdeka kalau secara kasat mata SDA mereka mampu membiayai pembangunan se-Indonesia. Apa pula harapan orang Maluku jika kemiskinan dan keterbelakangan saja yang ada pada mereka. Muncul harapan seandainya mereka berdiri sebagai suatu negara berdaulat. Sebaliknya, mengapa harus “capek-capek” merdeka apabila keadilan, kesejahteraan dan equality dirasakan masyarakat daerah. Ini pula yang akhirnya diterapkan Australia terhadap suku Aborigin dan Selandia Baru terhadap Maori. Selama orang daerah menilai hadirnya ketidakadilan dan ketimpangan ditengah-tengah mereka serta ketidaknyamanan berada dalam NKRI, maka selama itu pula gerakan separatis tetap ada.

Leave Your Comment:

grinLOLcheesesmilewinksmirkrolleyesconfused
surprisedbig surprisetongue laughtongue rolleyetongue winkraspberryblank starelong face
ohhgrrrgulpoh ohdownerred facesickshut eye
hmmmmadangryzipperkissshockcool smilecool smirk
cool grincool hmmcool madcool cheesevampiresnakeexcaimquestion


 

 

Comments:

 
  • Vdedwsalisy wrote:
    25 Juni 2017, 06:44

    fast auto payday loans <a href="https://zxepersonalloansonlinesmall.com/">cash advance online</a> poor credit loans <a href=https://zxepersonalloansonlinesmall.com/>debt consolidation</a> ’

  • Jacobtiepe wrote:
    24 Juni 2017, 21:12

    <a href="http://canadianpharmacyonlinenoscript.ru/">Canadian Pharmacy Without a Doctor Prescription</a>

  • WillieBomia wrote:
    24 Juni 2017, 20:47

    <a href="http://cheapdrugs.ru/">Cheap Drugs</a>

  • RalphafteD wrote:
    24 Juni 2017, 19:39

    <a href="http://onlinepharmacywithoutaprescription.ru/">canadian pharmacy</a>

  • BfrddpyclE wrote:
    24 Juni 2017, 13:02

    payday loans direct lender <a href="https://lasbadcreditloansloanbadcredit.com/">online installment loans</a> quick cash payday loans <a href=https://lasbadcreditloansloanbadcredit.com/>bad credit loan payday loans payday lender bad credit loan</a> ’

  • BfrddpyclE wrote:
    24 Juni 2017, 10:12

    guaranteed personal loans <a href="https://lasbadcreditloansloanbadcredit.com/">online loan</a> loans no credit check <a href=https://lasbadcreditloansloanbadcredit.com/>payday</a> ’

  • BfrddpyclE wrote:
    24 Juni 2017, 09:30

    direct loan lenders online <a href="https://lasbadcreditloansloanbadcredit.com/">quick cash</a> axcess payday loans <a href=https://lasbadcreditloansloanbadcredit.com/>credit loan application</a> ’

  • CcgtAw wrote:
    24 Juni 2017, 09:20

    personal loans people bad credit <a href="https://vekpaydayadvanceloanssamepayday.com/">quick personal loans</a> personal loans bad credit <a href="https://vekpaydayadvanceloanssamepayday.com/">personal loans bad credit</a> ’

  • BfrddpyclE wrote:
    24 Juni 2017, 08:58

    credit repair <a href="https://lasbadcreditloansloanbadcredit.com/">loan store</a> bad credit car loan saving account payday loan student loan <a href=https://lasbadcreditloansloanbadcredit.com/>online payday loan lenders</a> ’

  • Vdedwsalisy wrote:
    24 Juni 2017, 07:22

    instant loans <a href="https://zxepersonalloansonlinesmall.com/">credit loan application</a> fast cash loan <a href=https://zxepersonalloansonlinesmall.com/>checkn</a> ’



kata kata galau kata kata motivasi desain rumah minimalis jual baju korea kacamata online cara cepat hamil cara memakai jilbab