Indonesia Bagi Palestina

Share |
26 November 2010, 18:16 | dibaca 4894 kali

Prof.Amzulian Rifai,Ph.D
Guru Besar UNSRI
Menteri Agama Republik Indonesia menegaskan bahwa konflik di jalur Gaza antara Hamas dan Israel bukanlah perang agama. Intinya, bangsa Indonesia jangan ikut-ikutan hanya atas dasar sentimen keagamaan. Namun, satu hal yang tidak dapat dipungkiri bahwa Palestina identik dengan Islam. Indonesia adalah negara dengan penduduk beragama Islam terbesar didunia. Pasti banyak harapan dengan label “Islam terbesar” ini. Peran apa yang semestinya dilakukan Indonesia terhadap tragedi kemanusiaan paling biadab diabad modern ini? [...]
Seperti juga Indonesia, bangsa Palestina bukanlah 100% beragama Islam. Ada agama-agama lain juga di Palestina. Tetapi dunia terlanjur memandang Palestina sebagai identik dengan Islam. Artinya,penindasan terhadap Palestina sama dengan penindasan terhadap Islam. Sekedar membayangkan sejenak, gara-gara bangsa Yahudi (Israel) terusir dari Eropah, bangsa Palestina harus menderita hingga akhir zaman.
Cerita sederhananya begini. Bangsa Israel dinilai sebagai orang-orang non-Eropah. Ras ini harus dienyahkan dari belahan bumi Eropah. Persoalannya,mau dibuang kemana bangsa Yahudi ini. Pada saat itu tokoh-tokoh Yahudi memandang tanah Palestina sebagai “tanah air” mereka. Inggris sebagai penguasa tanah Arab, merestui pilihan bangsa Yahudi itu. Itu sebabnya kemudian Inggris memprakarsai diterbitkannya Deklarasi Balfour tahun 1917. Deklarasi ini adalah surat tertanggal 2 November 1917 dari Menteri Luar Negeri Inggris Arthur James Balfour kepada Lord Rothschild, pemimpin komunitas Yahudi Inggris untuk dikirimkan kepada federasi Zionis. Pada intinya surat itu menyatakan letak negara Yahudi yang disetujui Inggris dan pemerintah Inggris mendukung rencana-rencana zionis menjadikan Palestina sebagai “tanah air” Yahudi. Padahal, kondisi ini harus mengusik dan mengusir bangsa Palestina dari tanah kelahiran mereka. Sejak masuknya bangsa Yahudi yang merebut tanah bangsa Palestina, terjadilah peperangan tanpa henti dalam berbagai rupa dan skalanya hingga saat ini.
Penderitaan laten bangsa Palestina mencapai puncaknya ketika pada 27 November 2008 Israel melancarkan operasi Cast Lead yang mempertontonkan sekaligus melecehkan dunia betapa tidak berprikemanusiaannya bangsa ini. Dalam penderitaan bangsa Palestina yang berkelanjutan, maka wajar jika harapan ditujukan kepada negara dan organisasi tertentu. Kepada PBB, Perserikatan Bangsa-Bangsa, pastilah pertama kali harapan itu disandarkan. Gagal. Puluhan negara Arab yang seagama dan sewilayah tak juga punya nyali menghadapi Israel. Mata dunia kemudian tertuju ke Indonesia, sebagai negara yang berpenduduk Muslim yang berjumlah terbesar didunia. Peran Indonesia sangat diharapkan.
Ada dua langkah yang dapat dilakukan Indonesia. Pertama gerakan moral. Indonesia telah banyak melakukan gerakan moral. Dibanyak tempat orang berdo’a massal bagi Palestina. Hampir diseluruh daerah Indonesia terjadi demonstrasi dalam berbagai rupa. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa menunjukkan amarah mereka kepada bangsa Israel.Bahkan ada diantara demonstran yang berteriak-teriak menyatakan kesiapan mereka untuk dikirim ke jalur gaza untuk berperang melawan tentara Israel.
Namun persoalannya, apakah teriakan-teriakan Indonesia diberbagai daerah diketahui oleh para pengambil keputusan di negara zionis itu? Kalaupun diketahui oleh orang-orang Yahudi apakah dapat mempengaruhi mereka? Kepada organisasi PBB yang menaungi hampir seluruh negara dimuka bumi ini saja Israel tidak menunjukkan “sungkan” apalagi terhadap demo-demo kecil dan sporadis di Indonesia. Begitu juga demonstrasi-demonstrasi besar dan militan di negara-negara lain.
Demikian juga dengan tuntutan beberapa kelompok masyarakat Indonesia untuk berjihad ke Palestina. Ada dua persoalan yang menghadang. Pertama, mereka yang akan berangkat berjuang ke Palestina bukanlah orang-orang profesional militer. Bukan meremehkan. Tengok saja, bahkan combatan Hamas yang sangat terlatih dan militan saja “cerai berai” dihajar teknologi militer Israel yang dipasok Amerika. Kedua, sangat sulit bagi “pejuang-pejuang” Indonesia untuk mencapai wilayah pertempuran karena berbagai rintangan, termasuk untuk melintas batas. Mungkin jika benar-benar ingin berperang, lakukan saja secara rahasia. Tidak perlu “bolak-balik” mengemukakan rencana itu melalui wawancara di televisi. Langsung saja menyusup ke Palestina. Lakukan perang gerilya. Gerakan diam-diam lebih efektif ketimbang publikasi saja. Walaupun sebagai gerakan moral tanda bersimpati, tetap harus dihargai.
Bagi bangsa Palestina dukungan moral sudah terlalu banyak mereka terima. Do’a, simpati, dukungan jarak jauh tidak ada “putus-putusnya.” Ternyata sejak tahun 1917, dukungan moral itu tidak mengakhiri penderitaan mereka. Agaknya masih perlu proses untuk mengabulkan do’a yang dipanjatkan kepada mereka. Ribuan anak-anak dan perempuan Palestina terlanjur mati korban keganasan bangsa Yahudi. Bom-bom cluster yang dilarang beserta senjata-senjata terlarang lainnya terlanjur memporak porandakan Palestina. Harus ada solusi konkrit dan tindakan nyata, termasuk dari Indonesia.
Minimal ada tiga tindakan nyata yang dapat dilakukan Indonesia. Pertama, mengrimkan bantuan kemausiaan. Mulai dari perlengkapan-perlengkapan medis, tenaga medis hingga kebutuhan sehari-hari bagi mereka yang menghadapi bencana yang dahsyat. Mungkin masih mendingan menghadapi bencana alam yang kerusakannya terpola. Kerusakan akibat perang modern pastilah tidak terpola. Kerusakannya massive dan para korban memerlukan penanganan khusus akibat penggunaan senjata terlarang dengan akibat sangat mengerikan. Dalam urusan satu ini, Indonesia telah cukup berperan.
Langkah nyata Indonesia kedua adalah mengkaji ulang politik luar negeri khusus terhadap Israel. Selama ini Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Alasannya antara lain karena sejak deklarasi pembentukan Israel, secara de jure, negara zionis ini tidak mendapat pengakuan dari Indonesia. Mungkin ada baiknya dilakukan pengkajian ulang, apakah dengan cara “bermusuhan” ini menguntungkan bagi upaya membantu bangsa Palestina. Sebagai gerakan moral bagus juga, Indonesia menunjukkan kepada bangsa Palestina tidak mengakui keberadaan Israel. Namun faktanya negeri ini eksis. Akibatnya, kalaupun ada lobby-lobby Indonesia kepada Israel hanya sebatas non-formal saja. Tidak ada daya tekan Indonesia kepada Israel. Siapa tahu, seandainya ada hubungan diplomatik,mungkin ceritanya berbeda. Walaupun, perlu kajian mendalam.
Jikapun kemudian hubungan diplomatik ini sulit direalisasikan,masih ada langkah nyata yang dapat dilakukan. Indonesia harus berani menjadi negara terdepan berjuang untuk menyeret Israel ke baik ke Mahkamah Internasional (International Court of Justice) maupun ke Pengadilan Pidana Internasional (International Criminal Court). Israel telah melakukan kejahatan perang dan melakukan pelanggaran HAM berat. Kejahatan perang itu antara lain dengan menggunakan senjata-senjata terlarang, mengebom fasilitas sipil, membunuh banyak anak-anak dan perempuan. Ironisnya, kejahatan ini disaksikan oleh masyarakat dunia. Jika dalam hukum diperlukan dua saksi untuk menjadikan kesaksian itu otentik,maka dalam kejahatan yang dilakukan Israel kali ini ada ratusan juta saksi. Bahkan kesaksian itu terdokumentasi.
Langkah awal gerakan menyeret Israel untuk mempertanggungjawabkan kejahatan perang ini dapat dimulai Indonesia melalui negara-negara ASEAN. Mungkin simpati itu dimulai dengan isu kemanusiaan,bukan isu agama. Deklarasi ASEAN jelas-jelas menuntut peran aktif negara ini dalam percaturan dunia dan pasti pula concern dengan isu kemanusiaan. Malaysia tentulah salah satu negara ASEAN yang dapat diajak berdialog melalui sentimen keagamaan.Bukan mustahil bersama Malaysia, suara Indonesia akan terdengar lebih lantang.
Lobby ke negara-negara Arab melalui Liga Arab mungkin langkah Indonesia selanjutnya. Indonesia dapat berperan aktif untuk meyakinkan negara-negara Arab bahwa harus ada gerakan sistematis untuk menyelesaikan masalah Palestina secara komprehensif dan untuk selamanya. Siapa tahu, presiden Obama kelak memiliki perhatian khusus dengan Indonesia. Obama pernah merasakan hiruk pikuk Jakarta atau malah terhibur ketika dulu menyelusuri gang-gang sempit di Jakarta. Kalau-kalau saja memori ini menjadikan orang nomor satu AS ini akan “mendengar” saran Indonesia. Indonesia harus meyakinkan AS bahwa Israel telah melakukan kejahatan perang dan telah melakukan pelanggaran HAM berat.
Memang persoalannya langkah nyata Indonesia itu juga dihadapkan pada banyak halangan. Halangan dari dalam dan luar negeri. Halangan dari dalam negeri saja, Indonesia sibuk menghadapi konfliknya sendiri. Konflik paling nyata adalah kemiskinan dengan berbagai masalah ikutannya. Belum lagi soal moral dan semangat juang warga dan para pemimpinnya. Jangankan mengurus Palestina, mengurus pemilihan umum saja kita “tidak sudah-sudah.” Ada pemilihan sepanjang tahun. Pemimpin kita sibuk berjuang berebut kekuasaan. Langkah nyata untuk Palestina terabaikan. Jadilah Indonesia berlabel negara Islam terbesar saja. Lobby tak banyak pengaruhnya. Suaranya tak lantang,bahkan dinegara ASEAN sekalipun. Apalagi untuk mempengaruhi Liga Arab, Eropah atau Amerika Serikat. Agaknya, Israel faham benar fakta ini. Palestinanya juga. Mungkin itu sebabnya Hamas atau Fatah tak berani berharap banyak dengan negara luar, termasuk Indonesia. Kedepan perang Israel-Palestina akan terus membara.

Leave Your Comment:

grinLOLcheesesmilewinksmirkrolleyesconfused
surprisedbig surprisetongue laughtongue rolleyetongue winkraspberryblank starelong face
ohhgrrrgulpoh ohdownerred facesickshut eye
hmmmmadangryzipperkissshockcool smilecool smirk
cool grincool hmmcool madcool cheesevampiresnakeexcaimquestion


 

 

Comments:

 


kata kata galau kata kata motivasi desain rumah minimalis jual baju korea kacamata online cara cepat hamil cara memakai jilbab