Wakil Rakyat Dipenghujung Jabatan

Share |
05 Maret 2010, 16:09 | dibaca 115654 kali

Prof. Amzulian Rifai,Ph.D

Guru Besar UNSRI

Beberapa hari lalu penulis menjadi pembicara bersama ketua dan salah seorang anggota DPRD Sumatera Selatan di TVRI. Topiknya memang soal kinerja wakil rakyat. Untungnya sosok sekaliber Zamzami Achmad sudah kenyang makan “asam garam” sehingga dapat berdialog dengan tenang. Semua penanggap dalam dialog interaktif itu menumpahkan amarah mereka kepada para anggota dewan. Tidak ada yang bersimpati. Bahkan ada diantara penanggap yang berkata agak kasar. Itulah luapan kekesalan masyarakat kepada wakilnya. Pak Zamzami Achmad dengan tenang mengakui kekurangan yang ada dan kekecewaan masyarakat adalah refleksi atas penilaian kinerja para wakil rakyat. Agaknya beliau sudah terbiasa dengan perdebatan panas sehingga “mati rasa” dengan kritik yang paling pedas sekalipun [...]

Sebaiknya kita tidak ikut-ikutan “emosional” dalam memberikan tanggapan terhadap kinerja para wakil rakyat. Kamus Besar Bahasa Indonesia memaknai kinerja sebagai sesuatu yang dicapai atau prestasi yang diperlihatkan. “Amarah” pemirsa yang beda tipis saja dengan opini masyarakat kebanyakan, adalah dengan menuduh bahwa kinerja para wakil rakyat sangat rendah. Sepanjang lima tahun saja dinilai sudah rendah apalagi menjelang pemilihan calon legislatif yang telah sangat dekat pelaksanaannya [...]

Jika dipukul rata, kira-kira diatas 40% para wakil rakyat sekarang ini masih tetap maju sebagai calon legislatif. Walaupun mungkin diantara mereka ada yang hijrah ke partai lain agar tetap sah sebagai calon. Jika sepanjang lima tahun saja kinerja mereka menjadi sorotan, apalagi dipenghujung masa jabatan yang segera berakhir. To make it worse, disertai pula dengan perubahan sistem ketatanegaraan kita dengan sistem pemilihan langsung dan penentuan terpilihnya atas dasar suara terbanyak. Perubahan sistem yang signifikan berimplikasi sangat mendasar terhadap sepak terjang para calon legislatif.

Kita boleh saja memiliki persepsi sendiri tentang kinerja para wakil rakyat. Namun tentu harus melihatnya secara adil, tidak emosional. Hanya dengan cara ini maka “ponten” yang diberikan juga tidak asal-asalan saja. Itu sebabnya ada beberapa aspek yang dapat digunakan dalam menilai kinerja para wakil rakyat. Diantara aspek penilaian kinerja itu adalah bagaimana pelaksanaan fungsi yang dimiliki oleh dewan,bagaimana tingkat kehadiran mereka serta seberapa intensitas berkunjung ke masyarakat. Ketiga aspek ini dapat dijadikan tolok ukur untuk melihat danmenilai kinerja para wakil rakyat secara fair dan menyeluruh.

Secara teori Lembaga Perwakilan Rakyat didunia ini memiliki tiga fungsi. Indonesiapun telah mengadopsi ketiga fungsi ini dan memasukkannya kedalam peraturan perundang-undangan. Pertama fungsi legislasi (legislation). Artinya, penilaian kinerja anggota Dewan didasarkan kepada seberapa produk hukum yang berhasil mereka hasilkan. Ditingkat daerah tentulah jumlah PERDA yang dihasilkan dalam satu tahun anggaran. DPRD Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2008 berhasil menerbitkan sebanyak 107 PERDA. Jika aspek kuantitas semata yang dijadikan ukuran, maka tidak ada masalah dengan kinerja wakil rakyat Sumatera Selatan. Biasanya jumlah produk hukum inilah yang dijadikan dasar untuk menilai kinerja mereka dibidang legislasi.

Fungsi kedua adalah anggaran (budgeting). Maknanya, bahwa kinerja para wakil rakyat dinilai melalui kemampuan mereka untuk membahas anggaran yang diajukan oleh pihak eksekutif. Pembahasan yang disertai pula dengan analisis yang kritis terhadap berbagai mata anggaran yang diajukan pemerintah. Selain itu bagaimana ketepatan waktu dalam menyelesaikan pembahasan ini. Artinya, membahas anggaran yang diajukan tidak berarti menjadi “bertele-tele” sehingga melewati batas waktu yang ditentukan. Apabila pemerintah tidak “dengan mudah” dapat mengajukan anggaran versinya karena alotnya pembahasan namun disaat bersamaan waktu yang ditentukan tidak terlewatkan, maka dapat dikatakan bahwa kinerja para wakil rakyat cukup baik. Hal-hal inilah yang menjadi esensi dari fungsi anggaran yang dimiliki oleh dewan.

Fungsi ketiga adalah pengawasan (controlling). Fungsi pengawasan terhadap pihak eksekutif ini sangat penting dijalankan oleh para wakil rakyat. Pengawasan baik secara pasif maupun secara aktif. Secara pasif berarti menunggu adanya laporan tentang perlunya anggota dewan melakukan sesuatu terkait dengan kinerja eksekutif. Sedangkan pengawasan bersifat aktif jika para anggota dewan secara aktif melakukan pengawasan terhadap segala sesuatu yang menyangkut kinerja eksekutif dan mencari tahu ditengah-tengah masyarakat terhadap berbagai persoalan eksekutif termasuk bagaimana pelayanan pemerintah terhadap warganya. Rapor kinerja para anggota dewan ditentukan bagaimana “ponten” pengawasan aktif dan pengawasan pasif mereka selama ini.

Aspek penilaian kedua untuk mengukur kinerja wakil rakyat adalah bagaimana tingkat kehadiran. Ada juga perdebatan soal kehadiran ini. Apakah itu berarti setiap hari para wakil rakyat harus “ngantor” sebagaimana mereka yang bekerja di birokrasi? Saya fikir tidak harus begitu. Ada perbedaan dengan cara ngantor para PNS. Kehadiran para anggota dewan didasarkan pada kehadiran mereka dalam semua jenis rapat yang ada dilembaga itu. Kehadiran para wakil rakyat dalam berbagai jenis rapat itulah yang menjadi tolok ukur kinerja. Kepergian mereka “kemana-mana” atas nama menjalankan ketiga fungsi (legislasi, anggaran dan pengawasan) dapat dikategorikan sebagai hadir. Sehingga “ponten” kehadiran itu bukannya absensi masuk kantor setiap hari. Penyebabnya para wakil rakyat lebih kepada menjalankan fungsinya, bukan kehadiran fisik setiap hari tanpa jelas apa yang dikerjakan.

Aspek penilain yang ketiga adalah seberapa intensitas mereka berkunjung ke masyarakat. Selama lima tahun in office, seberapa sering mereka melakukan kunjungan. Kunjungan yang seharusnya tidak harus dengan rombongan yang kentalnuansa formalitas. Idealnya para wakil rakyat senantiasa “bercengkerama” dengan masyarakat. Tidak menunggu waktu reses. Intensitas bercengkerama dengan masyarakat inilah yang menjadi tolok ukur kinerja berikutnya.

Sayangnya aspek kunjungan dan respon terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat yang menjadi patokan maka nilai wakil rakyat menjadi rendah. Ini tergambar dari berbagai observasi yang saya lakukan betapa “amarah” rakyat ditumpahkan atas dasar rendahnya kuantitas dan kualitas kebersamaan para wakil rakyat dengan masyarakat. Kurang tepat jika saat sekarang ini dijadikan tolok ukur penilaian. Pastilah “dekat-dekat” dengan pemilihan legislatif para wakil rakyat yang sedang menjabat sekarang ini justru memiliki motto “tiada hari tanpa bertemu rakyat.” Cara ini justru menurunkan nilai para wakil rakyat.

Sebagian masyarakat malah menunjukkan sinisme mereka dengan menyatakan bahwa menjelang pemilihan mereka didekati tetapi “orang-orang yang terpilih itu” akan tak peduli lagi seketika setelah mereka berhasil. Image masyarakat yang kurang baik ini justru menyulitkan. Menyulitkan bagi upaya meningkatkan citra wakil rakyat dan membuat tidak mudah juga bagi para calon legislatif yang “berkampanye.” Perjuangan kedua elemen ini memerlukan energi lebih. Sinisme dan suudzon inilah yang melahirkan para golongan putih dan mereka yang tidak bersimpati dengan para wakil rakyat.

Senyatanya ada pertentangan faham antara para wakil rakyat dengan rakyat yang diwakilinya. Para wakil rakyat tidak begitu faham tentang kesalahannya. Mereka merasa telah melakukan banyak hal sesuai dengan tiga fungsi pokoknya. Namun rakyat tetap saja memandang sinis dan memberikan ponten merah. Padahal berbagai cara “rasa-rasanya” telah mereka lakukan untuk menarik simpati.

Mungkin dalam pertentangan persepsi ini komunikasi para wakil rakyat yang perlu diperbaiki. Komunikasi yang sifatnya “bersama-sama” baik secara kelompok ataupun secara kelembagaan. Komunikasi dengan rakyat secara patut tentang apa saja yang telah, sedang dan akan dilakukan. Jangan pula membodohi rakyat dengan berbagai iklan politik yang justru kadang-kadang “terang benderang” berbohongnya. Jika ini yang terjadi akan sangat sulit mengangkat rating wakil rakyat secara kelembagaan. Komunikasi yang berlebihan justru kontra produktif. Jangan heran jika para wakil rakyat “merasa telah mati-matian” berbuat namun disisi lain masih dicerca rakyat. Soalnya penilaian kinerja para wakil rakyat juga ditentukan bagaimana mengkomunikasikan dengan mereka secara patut. Komunikasi itu semakin tidak mudah dipenghujung masa jabatan. Mestinya, kedepan para wakil rakyat tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Leave Your Comment:

grinLOLcheesesmilewinksmirkrolleyesconfused
surprisedbig surprisetongue laughtongue rolleyetongue winkraspberryblank starelong face
ohhgrrrgulpoh ohdownerred facesickshut eye
hmmmmadangryzipperkissshockcool smilecool smirk
cool grincool hmmcool madcool cheesevampiresnakeexcaimquestion


 

 

Comments:

 
  • VindoBop wrote:
    22 Juni 2017, 08:07

    cialis drug generic <a href=http://cialisvezi.com/>cheap cialis online</a> <a href="http://cialisvezi.com/">online cialis</a> professionnel cialis original

  • DDEF wrote:
    21 Juni 2017, 18:43

    https://www.innerfit.pk/product-category/sports-bras/ Do you need the best and newest Victoria Formula push " up " bra still cannot benefit one a result of the high price this really is tagged using it? Then more suitable watch relating to the sales that'll be offered from that leading training pants maker anywhere.

  • 20 Juni 2017, 04:49

    Microsoft office 365 support team provides best solution at minimal price. http://www.msofficesupportnumber.com/microsoft-office-support.html

  • KolyaBop wrote:
    05 Juni 2017, 20:59

    viagra en ligne dange <a href=http://buyviagrayonline.com/>generic viagra</a> <a href="http://buyviagrayonline.com/">buy viagra</a> viagra soft gels

  • LehaBop wrote:
    03 Juni 2017, 20:14

    generic viagra 10mg <a href=http://buyviagrahaz.com/>cheap viagra</a> <a href="http://buyviagrahaz.com/">buy viagra online</a> direktan viagra kaufen

  • DredBop wrote:
    03 Juni 2017, 18:38

    cialis livraison rapide forum <a href=http://cheapcialisonlinek.com/>buy cialis online</a> <a href="http://cheapcialisonlinek.com/">generic cialis</a> cialis 5 mg le prix

  • IrisBop wrote:
    31 Mei 2017, 21:04

    prix viagra 100mg pharmacie <a href=http://genericxviagra.com/>viagra online</a> <a href="http://genericxviagra.com/">viagra online</a> viagra tablet sizes

  • IrisBop wrote:
    31 Mei 2017, 18:04

    viagra offer <a href=http://genericxviagra.com/>viagra online</a> <a href="http://genericxviagra.com/">buy viagra online</a> pfzer viagra for sale

  • IrisBop wrote:
    31 Mei 2017, 15:04

    female viagra cheap <a href=http://genericxviagra.com/>viagra professional</a> <a href="http://genericxviagra.com/">viagra professional</a> female viagra 40 mg pharmacy

  • IrisBop wrote:
    31 Mei 2017, 14:04

    viagra medicare uses in urdu <a href=http://genericxviagra.com/>cheap viagra</a> <a href="http://genericxviagra.com/">generic viagra</a> viagra dosage frequency



kata kata galau kata kata motivasi desain rumah minimalis jual baju korea kacamata online cara cepat hamil cara memakai jilbab